Anda Belum Login,
silakan login atau register ?
Login Register
Buka Bisnis Kuliner di Zaman Digital
Tamu Pesta Bahagia, Pengusaha Katering Turut Gembira
BISNIS KULINER | 24 Februari 2020
Hidangan pesta akhir tahun.

KONTAN.CO.ID - Jakarta

Bila menggelar pesta atau hajatan, sudah barang tentu kita mengundang banyak orang untuk datang ke tempat pesta. Setelah para tamu menyalami dan mendoakan yang punya hajat, tentu mereka akan menikmati hidangan yang kita sediakan.  
 
Jelas, hidangan pesta memiliki peran yang cukup vital dalam menambah kegembiraan para tamu undangan di hajatan pesta tersebut. Bila makanan kurang atau hidangan tidak enak, bukan mustahil, pemilik pesta bisa menjadi omongan para tamu undangan. 
 
Kondisi inilah tentu menjadi peluang bisnis bagi para pelaku usaha katering. Mau masuk ke segmentasi pesta kelas apa, pilihan menu apa saja, seberapa banyak tamunya, beda-beda pula harga paket kateringnya.
 
Namun, untuk memulai bisnis katering pesta ini tidak harus memiliki modal yang cukup besar. Dengan modal kecil sekalipun, bisnis katering pesta dapat dilakukan oleh siapa saja, baik ibu rumahtangga, karyawan, maupun latar belakang profesi lainnya. Tak terkecuali bagi Anda yang berminat menekuni usaha ini.
 
Menurut Jhonson Simbolon, pendiri dan pemilik Cita Catering di Yogyakarta, mendirikan usaha katering pesta tidak terlalu sulit. “Untuk menjalankan bisnis ini hanya perlu minat, ketekunan, dan tekad kuat dari pelaku usaha,” ujarnya. Masalah modal jangan pula terlalu dipusingkan, karena bisa meminta uang muka dari pemilik pesta.
 
Promosi lewat media 
Hal tersebut pernah dilakukan oleh Jhonson ketika awal merintis usaha katering. Dia bilang, setelah berhasil lulus kuliah pada tahun 1998, ia mencoba peruntungannya di bisnis katering pesta dengan modal cekak sebesar Rp 100.000. Modal itu ia peroleh dari orangtua sang pacar alias calon mertua.  
 
Selain tak memiliki modal usaha, Jhonson juga tidak memiliki keahlian memasak. Menurut Jhonson, satu-satunya modal yang ia miliki saat itu cuma pengalaman menyediakan katering untuk kegiatan kampus. Ketika masih aktif berorganisasi di kampusnya, ia kerap menjabat sebagai seksi konsumsi. Dari sinilah Jhonson mulai menimba ilmu katering. Sebagai seksi konsumsi, Jhonson mulai banyak berhubungan dengan para penyedia katering. Suatu ketika, ia pernah dapat tawaran menjadi perantara bisnis katering. 
 
Jadi, dia diminta oleh kenalan pebisnis katering mencari pelanggan. “Saya ditawari komisi 10% dari tiap transaksi,” katanya.
 
Boleh dibilang, pengalaman itu menjadi pintu masuk buat Jhonson menekuni bisnis katering. Sebab, pada akhirnya, ia mencoba sendiri menjalankan usaha katering. Dengan modal cekak hasil pinjaman dari calon mertua tadi, Jhonson memasang iklan tawaran jasa katering di media cetak lokal selama satu bulan. 
 
Asal Anda tahu, pada era itu, media cetak memang masih menjadi cara utama memperkenalkan dan mempromosikan barang dan jasa. Strategi yang dilakukan Jhonson berhasil. Menurutnya, hanya dalam hitungan pekan, orderan perdana pun datang. 
 
Namun, kata dia, sebelum menawarkan jasa katering lewat iklan, ia terlebih dulu mengurus perizinan. Mulai dari izin usaha, tanda daftar perusahaan, izin higienis usaha jasa boga hingga sertifikat halal. “Dari tingkat RT sampai instansi terkait, izin sudah keluar hanya dalam hitungan hari. Biayanya juga murah,” kata Jhonson.  Setelah izin keluar, barulah ia mulai menawarkan katering lewat iklan media cetak tadi.  Jhonson mengatakan, order katering pesta pertama kali yang ia dapatkan adalah untuk acara di sebuah instansi pemerintah. Kala itu, ia diminta pelanggannya untuk membuat makanan katering sebanyak 500 porsi. Jhonson pun membanderol satu porsi makanan kateringnya Rp 10.000 – relatif sesuai dengan pasaran waktu itu.
 
Maria Magdalena Utami, pemilik Raras Catering di Yogyakarta, mengingatkan, kemampuan memasak juga menjadi salah satu modal penting bagi pebisnis katering. Dengan cara itu, rasa dan kualitas masakan bisa terjaga. 
 
Poin yang juga penting dalam mengembangkan bisnis, pengusaha katering perlu merekrut beberapa karyawan. Paling tidak dibutuhkan tenaga juru masak, juru saji, hingga tenaga pemasaran. Adapun untuk membantu di hari pelaksanaan bisa memakai tenaga paruh waktu. Maria juga mengajak beberapa tetangga untuk membantu memasak menu katering.
 
Saat ini, Raras Catering sudah memiliki enam pegawai tetap. Jumlah segitu, menurut Maria, cukup untuk menjalankan bisnis katering. Jika ada pesanan dalam partai besar, Maria baru akan merekrut pegawai tambahan. Lalu, untuk pesanan acara pernikahan, Maria menggandeng mitra penyewaan alat pesta dan penyedia jasa pramusaji. Dengan cara tersebut, Maria bisa menghemat biaya operasional. Karena, kata Maria, sejatinya dalam bisnis katering, komponen paling tinggi terletak pada biaya penyajian dan dekorasi. Maklum, pemasaran yang paling efektif dalam bisnis katering adalah pesta itu sendiri. Caranya, dengan menghadirkan dekorasi katering yang bagus dan menarik. Selain itu, menyajikan makanan dan minuman yang memuaskan lidah pelanggan. Bila berhasil, para tamu akan merekomendasikan katering tersebut kepada orang terdekatnya. 
 
Saat ini, Maria bisa menerima pesanan katering pesta hingga 2.000 porsi. “Tapi, sedikit pun saya layani, karena dari sedikit bisa menjadi besar,” ujarnya.
Untuk segmentasi bisnis, lanjut Maria, sejak awal ia memang membidik konsumen kelas menengah. Alasannya menu katering kelas menengah lebih sederhana dan praktis. Karena itu, Maria membanderol harga menu katering cukup terjangkau. Untuk menu model prasmanan acara pernikahan, Raras Catering menawarkan paket di kisaran Rp 28.500–Rp 40.000 per porsi.
 
Modal dari uang muka 
 
Jhonson menambahkan, bisnis katering pesta merupakan bisnis yang mengurusi tamu dengan jumlah ratusan hingga ribuan orang dalam satu pesta. Karena itu, pengelolaan bahan baku juga menjadi faktor kunci. Bagaimana jika tidak punya modal untuk belanja bahan baku? Tak perlu risau. Anda bisa melakukan cara yang dilakukan Jhonson. Pria kelahiran 47 tahun silam itu menyarankan, bagi pebisnis pemula yang belum memiliki modal usaha, bisa melakukan cara yang dia tempuh. Ketika pertama kali mendapatkan order katering 500 porsi, ia belum memiliki modal usaha untuk beli bahan baku. 
 
Tak kehilangan akal, Jhonson meminta bayaran uang muka sebesar 50% terlebih dahulu kepada pelangannya. Beruntung, permintaannya disetujui. Dengan pembayaran uang muka itulah, Jhonson bisa belanja bahan baku pesanan katering sesuai keinginan pelanggan.
 
Untuk kebutuhan bahan baku, kata Jhonson, sebagian besar ia beli dari pedagang di pasar induk Yogyakarta dan supplier tetap langganannya. Hanya, ia enggan memerinci berapa banyak bahan baku katering yang dibutuhkan dalam seminggu atau sebulan. Dia hanya mengatakan, dalam sebulan, setidaknya dia butuh bahan baku sayur-mayur dan protein berupa telur, daging ayam dan sapi hingga ratusan kuintal. 
 
Bukan cuma kesulitan modal, pada awal merintis usaha katering, Jhonson juga menghadapi kendala peralatan masak. Saat menerima order perdana, ia belum memiliki peralatan masak. Di sini Jhonson kembali memutar otak. Untuk kebutuhan alat-alat masak, ia menyewa di lingkungan setempat. Kebetulan, saat itu warga di sekitar kosnya menyediakan peralatan masak yang bisa disewakan.
 
Tapi lagi-lagi, persoalan lain muncul. Karena tak memiliki keahlian memasak, ia harus menggandeng sejumlah ibu rumahtangga di sekitar kosnya. “Sebagai juru masak, saya menggunakan jasa ibu rumahtangga di sekitar kos,” kata dia.
 
Sebenarnya, ungkap Jhonson, pebisnis katering bisa merekrut tenaga lepas dari chef hotel. Hal ini pun pernah ia lakukan. Ada beberapa chef hotel di sekitar Yogyakarta yang digandeng untuk membantu memasak menu katering. Pasalnya, hingga saat ini, Jhonson mengaku baru punya sembilan orang karyawan. Sebagian besar adalah pramusaji dan bagian peralatan pesta. 
 
Kendala lain bisnis katering pesta adalah waktu atau musim. Menurut Jhonson, khusus di Yogyakarta, ada empat kalender Islam yang menentukan order katering, yakni bulan Rajab, Syawal, Sura, dan Maulud. Biasanya,  hanya pada bulan Suro pesanan katering sepi. Pada bulan ini, biasanya Jhonson melayani jasa katering harian.
Tapi, di tiga bulan lainnya, pesanan katering kembali padat. “Kalau permintaan penuh, dalam satu bulan, kami bisa melayani 60–70 titik pesta,” kata Jhonson. 
 
Saat ini Cita Catering menawarkan harga paket prasmanan mulai harga Rp 29.000 dengan minimum order 500 porsi. Jhonson bilang, margin bisnis katering  sekitar 30% per order.                  

Reporter: Dikky Setiawan, RR Putri Werdiningsih
Editor: Hendrika
Share :
Artikel Lainnya