Anda Belum Login,
silakan login atau register ?
Login Register
Buka Bisnis Kuliner di Zaman Digital
Sedot laba dari si pelepas dahaga
STRATEGI BISNIS | 24 Februari 2020
Minuman Boba?

KONTAN.CO.ID -

Anda yang suka membaca kisah inspiratif tentu kerap membaca kisah pengusaha yang sukses berkat bisnis minuman. Maklum bisnis minuman memang banyak digeluti sebagian orang karena pilihan investasi beragam dan labanya menggiurkan. Apalagi, tawaran investasi bisnis ini mulai dari kelas gerobak sampai kelas gedongan di mal.

Bagi investor yang berkantong pas-pasan, Anda bisa melirik investasi usaha minuman kelas gerobak atau booth di pinggir jalan atau pertokoan. Bagi Anda yang berkantong tebal, Anda bisa membuka gerai di pusat perbelanjaan, mal atau perkantoran. Karena ragam pilihan investasi inilah, bisnis minuman banyak digeluti banyak orang.

Begitu juga dari menu pilihan minumannya yang juga banyak varian. Mulai dari minuman yang berbasis kopi, teh dan juga susu. Racikan produk minuman juga berkembang dengan adanya topping campuran boba, oreo, agar-agar dan banyak lagi. Dari sisi marketing, pemilik gerai semakin kreatif mengembangkan merek seperti ; Mynum, Munim, Haus, Teguk, Dink Dink dan lainnya.

Meski bisnis minuman ini sudah berkembang, namun Anda jangan berkecil hati dulu. Masih ada peluang mengembangkan bisnis minuman ini. Untuk tahap pertama, Anda mesti menentukan konsep bisnis yang ingin Anda buka. Ingat, konsep akan menentukan modal usahanya. Modal untuk konsep bisnis gerobak tentu berbeda dengan modal untuk konsep bisnis di pusat belanja.

Selanjutnya tentukan menu yang akan Anda racik untuk konsumen. Soal menu Anda jangan terlalu idealis, sesuaikan saja dengan selera pasar agar laris terjual. Yang sedang naik daun adalah minuman yang memakai boba, kata Ikhwan Maulana, Bandar Powder, pemasok bahan baku produk minuman berperasa di Jakarta.

Nah, boba berbahan dasar tapioka berasal dari Taiwan yang dikenal dengan nama zenzhu naicha. Boba banyak dijadikan bahan tambahan atau topping untuk minuman berbasis kopi, teh, susu, jus, dan minuman berperasa lain. Awalnya boba dipopulerkan perusahaan Taiwan, sekarang sudah banyak merek lokal mengembangkannya, kata Ikhwan.

Sepanjang 2019, penjualan bahan baku boba di toko Ikhwan mencapai 10 ton per bulan. Hampir setiap hari ada pedagang baru yang memesan bahan baku. Rata-rata pedagang minuman yang memesan bahan baku boba itu berasal dari pengusaha minuman yang membidik pasar dari generasi Z. Boba lagi naik daun, kata Ikhwan.

Salah satu kisah sukses menjalankan bisnis minuman boba ini dilakukan Bothie Boba asal Solo Jawa Tengah. Sejak buka gerai awal 2019, Bothie Boba telah meracik beragam menu boba, diantaranya racikan dengan susu segar dan gula aren. Meski usahanya baru berumur setahun, Bothie Boba telah membuka 22 gerai milik mitra di Jabodetabek, Kebumen, Pekanbaru, Indramayu, Sukabumi, Boyolali. Penjualannya bagus dan revenuenya menjanjikan, kata Putri Mei Karunia Kasih pemilik Bothie Boba.

Nah, Bothie Boba menawarkan paket kemitraan kepada investor mulai dari tawaran investasi Rp 5,5 juta untuk booth di pinggir jalan. Investasi untuk gerai portable, bahan baku seperti cup, gula aren, boba, susu untuk 100 cup serta peralatan pendukung lain.

Bagi Anda yang berkantong jumbo, Anda bisa menyimak tawaran kemitraan yang menawarkan buka gerai di mal. Biasanya, investasi gerai minuman di pusat perbelanjaan setidaknya membutuhkan investasi ratusan juta bahkan sampai miliaran.

Nah, tentu ada keunggulan jika menjadi mitra atau terwaralaba. Yang pasti, soal pengelolaan dan ketersediaan bahan baku tentu sudah terjamin. Investor tak perlu pusing memikirkan pasokan bahan baku untuk produksi. Semuanya dipasok pemilik kemitraan atau pemilik waralaba. Namun, tentu pemilik merek akan mengambil margin dari hasil penjualan bahan baku tersebut.

Selain menjadi mitra atau terwaralaba, Anda bisa buka usaha minuman secara mandiri. Namun, Anda harus siap repot karena harus mengerjakan banyak hal sendirian, mulai dari bikin booth sendiri, desain logo sendiri, meracik pilihan menu dan banyak lagi. Termasuk membangun pemasaran juga sendiri, kata Raden Rino Agusaputra, owner Dink Dink di Tangerang.

Investasi membuka bisnis minuman booth, menurut Rino, sekitar Rp 4 juta - Rp 5 juta , tak jauh beda dengan pola kemitraan. Namun Rino bilang, ada keuntungan lebih dari buka usaha sendiri, yaitu memperoleh margin yang lebih besar. Dengan membuka usaha sendiri, Rino bisa membesarkan bisnis sesuai keinginan. Sekarang saya ujicoba buka kemitraan, jika lancar, akan saya tawarkan untuk umum, kata pria yang sudah memiliki sembilan gerai tersebut.

Tantangan lain untuk membuka merek minuman sendiri adalah, mesti mempersiapkan manajemen yang andal agar keberlangsungan usaha terjamin. Manajemen diperlukan untuk membuat perencanaan bisnis yang matang. Berbeda jika hanya menjadi mitra, Anda cukup ikuti rencana bisnis yang telah dibikin pemilik merek. Ada plus dan minusnya, tergantung kebutuhan kita, kata Ikhwan.

Soal pilihan menu minuman, itu tergantung dari kreativitas pemilik merek. Ambil contoh tawaran menu dari Bothie Boba yang mengembangkan beragam menu seperti; Boba Brown Sugar Fresh Milk, Boba Brown Sugar Milk Tea, Greenie Matcha, Red Velvetta, Milk Tea, Darkest Choco Melt, Coffee Caramello dan Coffee Shushu. Harga jual menu mulai dari Rp 10.000 sampai Rp 16.000 saja per cup.

Namun jika mengembangkan merek sendiri, Anda bisa inovasi mengembangkan menu baru atau menu unik lainnya. Ambil contoh, Dink Dink meracik minuman dengan rasa umum dengan campuran boba, oreo serta agar-agar. Minuman yang diracik Rino dengan boba itu antara lain; Dark Chocolate, Choco Caramel, Cappucin, Mochacino, Green Tea, Red Velvet, Vanilla Latte, Vanilla Blue, Bubble Gum, Strawberry. Saya khusus membidik pangsa pasar pelajar dengan harga Rp 6.000 per cup, kata Rino.

Agar bisa balik modal selama 4 bulan, Rino mencatat, satu gerai Dink Dink yang baru berdiri harus bisa menjual 35 cup sehari alias omzet Rp 210 ribu sehari. Dana itu untuk biaya operasional dan bahan baku, ongkos sewa tempat, serta gaji satu karyawan. Rino mengaku tak kesulitan mendapatkan bahan baku minuman yang produk lokal.

Adapun kemitraan Bothie Boba mematok penjualan sehari antara 60 cup sampai 100 cup per hari. Jika target maksimum tersebut bisa tercapai, maka perkiraan balik modalnya hanya 1 bulan saja. Jika dihitung net profit mitra sekitar 50%-70% tergantung harga yang nantinya ditentukan mitra sendiri, kata Mei yang menargetkan menjaring 80 mitra sampai akhir tahun 2020.

Jaga inovasi

Menjalankan bisnis minuman ibarat menekuni bisnis gaya hidup atau lifestyle. Jika terjadi perubahan dalam gaya hidup, maka pola konsumsi bisnis minuman juga bisa berubah. Perubahan-perubahan gaya hidup ini mesti diketahui oleh pengusaha minuman agar bisa melanggengkan bisnisnya. Maka itu, inovasi menu penting dilakukan agar minuman sesuai dengan kebutuhan pasar kata Anang Sukandar, Ketua Kehormatan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI).

Anang memberikan contoh, bisnis minuman boba sudah ada di Indonesia sejak 2011. Namun, baru booming lagi dua tahun belakangan, karena ada inovasi baru yang dilakukan oleh beberapa pengusaha minuman. Ada yang meracik boba dengan susu, karamel dan gula aren dan perasa lain. Lantas apakah inovasi rasa berhenti sampai di situ? Anang melihat peluang racikan bisnis boba justru semakin terbuka jika nanti dicampur dengan menu minuman lokal. Bayangkan jika ada es palu buntung dicampur boba, atau es pisang hijau ditambah boba, semakin unik dan menarikan? ungkap Anang.

Ada banyak minuman lokal di daerah yang bisa diracik pebisnis minuman menjadi menu baru yang tak kalah sedap. Jika sajian minuman lokal tersebut bisa tersaji dengan tampilan unik, menarik dan modern, maka konsumen dari generasi Z akan berduyun-duyun untuk datang. Siapa yang mau memulai boba dan racikan menu lokal? tanya Anang.

Net profit atau keuntungan bersih dari bisnis minuman berbasis boba bisa mencapai 50% sampai 70% per cup.

Bisnis minuman adalah bisnis yang punya ragam modal, mulai dari tawaran modal jutaan rupiah, sampai miliaran rupiah juga ada. Ada yang rintis sendiri ada juga yang bermitra. Anda mau pilih mana?

Reporter: Asnil Bambani Amri
Editor: Asnil Amri
Share :
Artikel Lainnya