Anda Belum Login,
silakan login atau register ?
Login Register
Buka Bisnis Kuliner di Zaman Digital
Pilih Usaha Sendiri Atau Franchise
BISNIS KULINER | 24 Februari 2020
Pameran Waralaba Franchise & License Expo Indonesia (FLEI)

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis kuliner memang tidak ada matinya. Setiap hari ada saja pemain baru yang muncul. Meski pasarnya sudah disesaki banyak pemain, peluangnya tetap terbuka. Maklumlah, selagi manusia butuh makan dan minum, bisnis kuliner tetap dicari.

Yang menarik adalah, ada banyak bisnis kuliner yang bisa bertahan hingga puluhan tahun. Mereka seakan menjadi legenda, karena bertahan hingga puluhan tahun, estafet dari satu generasi ke generasi lainnya.

Namun, tidak sedikit pula, orang yang terjun ke bisnis ini, tapi hanya mampu bertahan sesaat.  Maka itu, walaupun usaha kuliner terbilang sangat menguntungkan, namun tetap perlu kiat tertentu agak bisa sukses dan langgeng.

Bagi Anda yang ingin terjun ke usaha ini, ada banyak cara untuk memulainya. Yakni, bisa dengan membuka usaha sendiri atau mengambil tawaran kemitraan maupun waralaba alias franchise.

Terlebih beberapa tahun belakangan industri kuliner penuh dengan tawaran kemitraan maupun waralaba, baik skala besar berbentuk restoran atau skala kecil usaha rintisan, yakni berbentuk booth atawa kaki lima di pinggir jalan.

Setiap pilihan model bisnis pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang perlu menjadi bahan pertimbangan Anda. Mari kita bahas apa saja kelebihan dan kekurangan dari model bisnis, baik itu bisnis waralaba atau franchise dan bisnis sendiri.

Bisnis mandiri

 

Djoko Kurniawan, konsultan bisnis dan waralaba dari DK Consulting mengatakan, bisnis sendiri menguntungkan karena memiliki kebebasan dalam mengelola usaha.

 

“Setiap pebisnis mandiri memiliki kebebasan penuh dalam menentukan segala hal yang berkaitan dengan bisnis tersebut,” ujar Djoko

Tanpa intervensi dari pihak manapun, pebinis bebas mulai dari menentukan produk kuliner yang akan dijual, siapa target bisnis, hingga bagaimana memasarkannya. “Intinya bisa bebas berkreasi,” jelasnya.

Anda juga bebas menentukan lokasi usaha yang dianggap menguntungkan sebagai tempat berjualan. Tidak perlu meminta persetujuan siapa pun,  Anda bisa langsung membuka  lokasi di tempat tertentu asalkan biaya sewanya cocok.

“Satu-satunya pertimbangan lokasi bisnis kuliner harus memilih tempat yang ramai dan strategis,” kata Djoko.

Selain itu, potensi keuntungan bisnis secara mandiri lebih besar karena tidak perlu membayar setoran apapun seperti halnya Anda mengambil bisnis waralaba atau kemitraan yang harus membayar royalti fee atau sejenisnya.

Dalam mengelola usaha sendiri, Anda juga bebas mencari supplier bahan baku yang dianggap lebih menguntungkan. Beda halnya dengan bisnis waralaba yang bahan bakunya sudah dipasok pusat dengan harga tertentu.

Dalam memulai bisnis secara mandiri, Anda juga bebas menentukan produk kuliner yang mau dijual. Namun, dibalik berbagai kelebihan itu, bisnis mandiri juga menyimpan risiko.

Risikonya bahkan terbilang tinggi karena pemilik bisnis belum pernah menjalankan bisnisnya sehingga tidak ada gambaran bagaimana usaha tersebut akan berjalan.

Pengusaha pemula yang merintis bisnis secara mandiri juga belum memiliki strategi bisnis yang teruji. “Jadi masih meraba-raba dan unsur spekulasinya lebih tinggi,” ujarnya.

Di sisi lain, tidak ada yang  membantu membimbing atau mendampingi usaha tersebut. Semua risiko menjadi tanggung jawab penuh si pemilik usaha. Tantangan lain adalah membangun brand agar dikenal konsumen.

Sebagai pendatang baru, tentu hal ini tidak mudah terlebih di tengah ketatnya persaingan. “Butuh promosi marketing yang kuat,” cetusnya.

Erwin Halim, konsultan waralaba dan bisnis digital mengatakan, untuk meminimalisir berbagai risiko itu, setiap pebisnis pemula harus menggandeng konsultan, baik itu konsultan produk maupun konsultan bisnis. “Konsultan ini  penting untuk ikut mendampingi jalannya sebuah usaha,” ujarnya.

Bisnis waralaba

 

Beda halnya dengan bisnis mandiri, bisnis waralaba jauh lebih praktis. Djoko bilang, enaknya bisnis waralaba atau kemitraan tidak harus memulai dari nol. “Bahkan sekitar 30% market sudah ada, tinggal melanjutkan saja,” ujarnya.

 

Sujeo Korean Food

Terlebih bila mengambil tawaran waralaba dari brand besar yang sudah dikenal luas. Dijamin, lokasi atau tempat usaha bakal langsung ramai. Namun, biaya waralaba atau kemitraan yang harus disiapkan bisa jauh lebih besar ketimbang biaya merintis usaha sendiri.

Namun, Erwin mengingatkan untuk tetap berhati-hati dalam membeli tawaran waralaba atau kemitraan. Menurutnya, Anda harus bisa membedakan antara bisnis waralaba atau kemitraan.

Setiap bisnis yang mengusung konsep franchise sudah mengantongi Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) dari Kementerian Perdagangan (Kemdag).

“Dengan demikian, bisnis franchise lebih aman karena sudah dicek Kemdag dan paling tidak laporan keuangannya sudah menguntungkan,” ujarnya.

Selain itu, pemasaran usaha Anda juga didukung penuh oleh pusat, sehingga mitra tidak terbebani lagi. Beda dengan business opportunity atau kemitraan.

Dalam konsep ini, bisnis yang ditawarkan bisa jadi belum terlalu menjanjikan dan belum didukung sistem yang mumpuni dari pusat. “Ada yang baru tiga bulan jalan sudah menawarkan kemitraan,” ujar Erwin.

Hanya bisnis waralaba menyimpan kelemahan berupa biaya royalti. “Sehingga keuntungan tidak sepenuhnya menjadi milik mitra usaha,” jelasnya.

Selain itu, mitra juga hanya boleh mengambil bahan baku dari pusat.  Anda tidak diperkenankan membeli bahan baku dari supplier lain sekalipun ada supplier yang menawarkan keuntungan lebih rendah.

Namun, apapun skema bisnis yang Anda pilih, semuanya tetap bisa menghasilkan keuntungan. Yang penting, Anda cermat dalam melakukan perhitungan terkait skema bisnis yang akan diambil.

Selamat mencoba. 

Reporter: Havid Vebri
Editor: Havid Vebri
Share :
Artikel Lainnya