Anda Belum Login,
silakan login atau register ?
Login Register
Buka Bisnis Kuliner di Zaman Digital
Imbal Hasil Lebih Gede ketimbang IHSG
REKSADANA | 21 Mei 2020

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemegang reksadana saham dalam tiga tahun terakhir boleh jadi bersuka cita. Sebab, rata-rata imbal hasil reksadana saham periode 3 tahun menunjukkan keuntungan cukup tinggi.  

Data Infovesta Utama memperlihatkan rata-rata imbal hasil reksadana saham periode 2016-2019 yang tercermin dalam  Infovesta 90 Equity Fund Index tumbuh 23,16%.

Kinerja reksadana saham dalam tiga tahun terakhir ini telah melampaui Indeks Harga Saham Gabungan.

Jika merunut secara historis, pergerakan IHSG dalam tiga tahun terakhir sebenarnya kurang memuaskan. Tahun lalu IHSG terkoreksi 2,54% setelah naik 19,99% pada 2017 dan 15,26% pada tahun 2016.

Sementara tahun ini, kinerja IHSG semakin babak belur. Selasa (10/3), IHSG bertengger di level 5.220, angka terendah sejak 2017. Sepanjang tahun ini, IHSG terkoreksi 17,12%.

Sejalan dengan IHSG, prospek reksadana menjadi kian meragukan.

Chief Investment Officer Eastspring Investment, Ari Pitojo, mengatakan, tahun ini merupakan tahun yang penuh tantangan bagi reksadana saham.

Sentimen terkait ketidakpastian politik, perang dagang, hingga wabah virus korona (Covid-19) menekan kinerja indeks global maupun domestik.

Ari menilai, sentimen terkait penyebaran virus korona dan penanggulangannya akan menjadi fokus utama ke depannya.

“Selain itu, berbagai kebijakan pemerintah, baik stimulus dan kebijakan penurunan suku bunga, diharapkan dapat menopang ekonomi dan pertumbuhan laba perusahaan di tahun ini,” ujarnya.

Level menarik

Ketakutan investor akan penyebaran Covid-19 yang dapat menyebabkan resesi ekonomi global membuat IHSG terpukul sepanjang tahun ini.

Alvin Pattisahusiwa, Direktur Utama PT Mandiri Manajemen Investasi, mengatakan, koreksi ini membuat valuasi price to earnings (PE) IHSG berada pada level terendah dalam 10 tahun terakhir.

Stimulus ekonomi oleh bank sentral dan pemerintahan secara global, termasuk Indonesia, diharapkan dapat membatasi pelemahan ekonomi akibat penyebaran Covid-19.

“Sehingga, level IHSG saat ini dapat menjadi entry-level yang menarik bagi investor dengan horizon investasi jangka menengah hingga panjang,” tutur Alvin.

Presiden Direktur Sucor Asset Management, Jemmy Paul Wawointana, melihat laju sektor manufaktur di seluruh dunia kemungkinan akan turun pada kuartal pertama hingga kedua tahun ini.

Hal tersebut akan membuat pertumbuhan ekonomi global melambat, tidak terkecuali Indonesia.

“Namun menjelang akhir tahun, akan banyak stimulus yang bisa mengangkat IHSG, seperti pemangkasan pajak dividen dan penurunan corporate tax. Itu semua akan bagus untuk saham,” papar Jemmy.

Tren IHSG yang masih melemah memang membuat optimisme investor pada imbal hasil reksadana saham kian tipis.

Namun demikian, manajer investasi telah menyiapkan berbagai strategi untuk mendorong kinerja produk besutannya.

Sementara, investor bisa mempertimbangkan beberapa produk reksadana yang sudah terlihat memberi imbal hasil tinggi dalam tiga tahun terakhir.

Berikut ulasan produk-produk reksadana berkinerja tertinggi untuk periode 3 tahun versi Infovesta Utama.

Reporter: Wuwun Nafsiah
Editor: Havid Vebri