Anda Belum Login,
silakan login atau register ?
Login Register
Buka Bisnis Kuliner di Zaman Digital
Ilmu Bisnis Katering Khusus
BISNIS KATERING | 25 Februari 2020
Menyiapkan katering diet./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/03/09/2014.

KONTAN.CO.ID - Jakarta Kendati persaingannya sudah terbilang ketat, usaha katering tetap saja menarik minat banyak orang untuk mencicipi gurihnya bisnis ini. Maklum, dengan modal minim, usaha katering bisa mendatangkan keuntungan tidak sedikit. Agar bisa meraih pangsa pasar, pelaku bisnis pun mencari berbagai peluang dan celah untuk menawarkan jasa katering.

Salah satunya, menjalankan bisnis katering khusus. Katering khusus adalah jenis katering yang menyediakan menu makanan yang bersifat khusus. Biasanya, katering jenis ini memiliki segmentasi pasar tersendiri. Misalnya, katering khusus pekerja pabrik atau kantoran, katering makanan sehat atau diet, katering makanan bayi dan lain-lain. Belakangan ini, bisnis katering khusus semakin merebak di Tanah Air. Banyak pelaku usaha yang mencoba menekuni usaha katering khusus. Salah satunya ialah Nuning Widowati, pemilik usaha Widya Catering di Jakarta. Nuning mulai merintis usaha katering khusus pekerja pabrik sejak tahun 1992. 

Nuning berkisah, sebelum merintis bisnis katering, ia terlebih dahulu membuka warung makan di rumahnya. Suatu ketika di tahun 1994, ada seorang pelanggannya yang menawarkan Nuning menjadi penyedia katering di pabrik tempatnya bekerja. “Coba, Bu, masukkan saja penawaran katering ke perusahaan saya,” kata dia menirukan ucapan pelanggannya tersebut.

Nuning bilang, pelanggan warung makannya itu adalah seorang karyawan di pabrik besi bernama PT Tobusco yang berada di kawasan industri Pulu Gadung, Jakarta Timur. Tawaran itu pun disambut positif oleh Nuning. Tidak berselang lama, ia proposal penawaran jasa katering ke pabrik tersebut.

Bak gayung bersambut, penawaran Nuning disetujui manajemen PT Tobusco. Kala itu ia diminta manajemen pabrik membuat masakan katering sebanyak 180 porsi per hari. “Saat itu, PT Tobusco mempekerjakan karyawannya dengan tiga sif. Yaitu pagi, siang, dan malam,” kata Nuning, mengenang.

Toh, Nuning tak serta-merta bisa langsung menjalankan bisnis katering. Menurut dia, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan, sebelum dirinya benar-benar terjun ke bisnis ini. Pertama, ia harus memiliki modal awal terlebih dahulu untuk membeli bahan baku. 

Sayangnya, saat itu Nuning mengaku tak memiliki dana tabungan untuk modal awal bisnis katering. Untuk memenuhi kebutuhan modal, ia dan suami harus mengajukan pinjaman modal ke Bank BRI sebesar Rp 5 juta. Dana itu digunakan untuk membeli peralatan masak dan belanja bahan baku masakan. Untuk tempat masak, ia gunakan dapur rumahnya.

Bisnis Makanan Penurun Berat Badan Bernama Diet Mayo

Modal usaha
Menurut Nuning, modal usaha menjadi faktor penting dalam menjalankan bisnis katering khusus pekerja pabrik atau kantoran. Sebab, biasanya, pihak mitra bisnis baru bisa membayar jasa katering setiap seminggu sekali, bahkan lebih. “Dengan uang pembayaran, pebisnis bisa memutar duit untuk kebutuhan modal katering,” imbuh Nuning. 

Pendapat Nuning diamini Riezka Sari Indaryanti, pemilik bisnis katering My Halal Food. Menurut wanita 34 tahun ini, kebutuhan modal bukan hanya untuk memenuhi komponen bahan baku dan peralatan masak. Lebih dari itu, modal juga diperlukan untuk membeli perlengkapan katering lainnya, seperti kemasan makanan dan mencetak logo nama katering.

Riezka mengatakan, ketika awal merintis usaha katering khusus bulan Ramadan pada tahun 2015, ia harus merogoh kocek sekitar Rp 3 juta. Modal itu berasal dari tabungan. Selain untuk membeli bahan baku dan peralatan masak, kata Riezka, modal awal juga ia gunakan untuk membeli kemasan makanan katering (kotak bento).

Selain itu, ia harus membeli stiker nama My Halal Food Catering dan membuat blog dengan biaya Rp 700.000. Blog ini dibuat untuk mempromosikan foto menu makanan katering. Ini belum termasuk ongkos jasa pengiriman katering ke tempat pelanggan, yang saat itu masih harus ditanggung sendiri. 

Cara itu ditempuh Riezka demi menarik minat pelanggan. Kondisi seperti itu dijalankan Riezka selama hampir tiga bulan. “Jadi, awalnya saya menanggung ongkos kirim katering ke pelanggan. Bagi saya yang penting saat itu dapat pelanggan dan saya tidak nombok biaya produksi,” katanya.  

Riezka mengaku, waktu awal menjalankan usaha, dirinya belum berorientasi mengejar profit alias keuntungan. Kala itu ia lebih fokus memupuk portofolio pelanggan dengan menyebar foto makanan katering My Halal Food ke teman-teman dekat dan koleganya melalui pesan Whatsapp.

Untuk memperluas jaringan pasarnya, Riezka juga membuat website www.myhalalfood.com. Website ini difungsikan sebagai media pemasaran produk dan jasa My Halal Food. Strategi itu membuahkan hasil. Pelanggannya pun terus bertambah. Meski begitu, Riezka membatasi jumlah pesanan. Saat itu My Halal Food baru mampu menyediakan makanan katering 30 porsi.

Maklum, pada awal merintis usaha, Riezka belum memiliki karyawan. Semua kegiatan katering dilakukannya sendiri dengan dibantu suami dan anggota keluarga lainnya. Selain modal usaha, kata Riezka, tenaga kerja memang menjadi faktor penting dalam kesuksesan menjalankan bisnis katering. 

Soalnya, tenaga kerja akan menentukan banyak atau sedikitnya order dari pelanggan katering. Contohnya, ya itu tadi, pada awal merintis usaha, Riezka hanya mampu menyediakan menu katering sebanyak 30 porsi. Dus, berjalannya waktu, Riezka mulai merekrut tenaga kerja. Saat ini, My Halal Food sudah memiliki 15 orang karyawan. Dari jumlah itu, 10 orang bertugas di dapur dan sisanya sebagai tenaga pengiriman katering.

Kini, dengan bantuan karyawan sebanyak itu, Riezka sudah bisa memenuhi pesanan 200 porsi katering per hari dengan tarif Rp 30.000 per porsi. Bukan hanya untuk makanan katering khusus bulan puasa, kini Riezka juga melebarkan menawarkan jasa katering makanan sehat atau katering diet.   

Nuning menimpali, tenaga kerja memang kerap menjadi kendala bisnis katering. Ibu tiga orang anak ini bilang, di saat Ramadan, ia justru tidak menerima order katering. Pasalnya, tiap Ramadan, hampir seluruh karyawannya, yang kini berjumlah 32 orang, memilih mudik ke kampung halamannya.

Celakanya, setelah hari raya Idul Fitri, sebagian besar karyawan Nuning tidak balik lagi bekerja. “Paling hanya sekitar 10 orang yang bertahan. Selebihnya berhenti bekerja membantu usaha katering saya. Karyawan saya berasal dari Pemalang, Jawa Tengah, Jember dan Nganjuk, Jawa Timur,” beber Nuning.

Jika sudah begitu, Nuning terpaksa harus mencari lagi karyawan baru untuk membantu usahanya. Persoalannya, mencari pekerja untuk membantu usaha katering tidak semudah mencari karyawan di bisnis lainnya. Karena berkaitan dengan rasa dan kualitas makanan, Nuning lebih memilih pekerja yang sudah berpengalaman.

Stok bahan baku

Herry Budiman, founder layanan katering sehat dengan merek Gorry Gourmet, menuturkan, dalam menjalankan bisnis katering khusus makanan sehat harus mampu menyesuaikan selera dan nutrisi yang dibutuhkan pelanggan. Karena itu, untuk menciptakan makanan sehat dan enak, butuh tim yang ahli di bidangnya dalam hal ini tim ahli gizi dan chef.

Tentu, kualitas bahan dasar untuk menu katering seperti beras, sayur, ikan, daging, telur, bumbu, dan lain-lain sangat menentukan hasil makanan yang enak dan begizi. Kesalahan membeli bahan yang tidak memenuhi standar bisa berbahaya bagi kesehatan pelanggan.

Persoalannya, menurut Nuning, harga bahan baku kerap berfluktuasi. Pada momen-momen tertentu, harga bahan baku sering kali melonjak. Biasanya, menjelang bulan puasa dan Lebaran harga bahan baku tinggi. Begitu pula pada bulan Desember dan Januari, harga bahan baku juga seringkali melambung. 
Ketika harga bahan baku tinggi, tidak ada yang bisa dilakukannya. Kecuali, mengurangi margin usaha. “Saya tidak bisa melakukan stok bahan baku, karena semua harus fresh,” ujar Nuning.

Senada, Riezka mengatakan, ia kesulitan melakukan stok bahan baku karena berkaitan dengan kualitas menu katering. Menurut dia, saat ini lidah pelanggan sudah peka untuk mengetahui bahan baku yang digunakan masih segar atau tidak. Terutama untuk bahan baku ikan, Riezka harus belanja setiap hari melalui distributor langganan.

Riezka menjelaskan, dalam sebulan, ia harus membeli kebutuhan bahan baku katering berupa sayur-mayur minimal 200 kilogram (kg). Sedangkan untuk bahan baku protein seperti telur, daging ayam dan daging sapi minimal 300 kg per bulan. Total, Riezka harus mengeluarkan biaya belanja bahan baku sebesar Rp 50 juta–Rp 80 juta per bulan.
Nuning menimpali, anggaran bahan baku memang memakan porsi terbesar, yakni sekitar 50% dari total biaya produksi katering. Selebihnya adalah untuk gaji karyawan, gas, dan transportasi pengiriman. Saat ini, Nuning hanya menyediakan makanan katering untuk para pekerja pabrik PT Yamaha Musik Manufacturing Indonesia (YMMI) dan PT Yamaha Indonesia. 

Untuk pekerja dua pabrik tersebut, Nuning harus membuat masakan katering sebanyak 3.600 porsi dengan tarif per porsi Rp 12.000. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, Nuning harus belanja daging ayam beku (frozen) sebanyak 150 ekor, telur 30 kg, dan daging 25 kg, dan cabe 45 kg per hari. Hanya beras yang bisa ia stok selama sebulan. Dalam sebulan, Nuning butuh bahan baku beras sebanyak 6 ton. 

Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku tersebut, Nuning menjalin kerjasama dengan para distributor dan para pedagang di pasar besar. Sebagian mitra distributor itu berada di wilayah Jabodetabek. Contohnya, untuk memenuhi pasokan daging ayam, dia bekerjasama dengan Lotte Mart. 

Sedangkan untuk kebutuhan telur, sayur-mayur, dan daging sapi, ia mengambil pasokan dari pedagang di Pasar Induk, Kramat Jati, Jakarta Timur. Untuk pasokan beras, Nuning membeli dari pedagang di Pasar Johar, Karawang. Total, ia harus memenuhi kebutuhan bahan baku lebih dari Rp 25 juta per hari. 

Berbeda dengan Nuning, Riezka mengaku tidak perlu repot-repot mencari pasokan bahan baku. Selama ini, ia justru kerap mendapatkan tawaran pasokan bahan baku dari kalangan distributor. Meskipun telah memiliki distributor langganan, Riezka mengaku lebih mengutamakan belanja bahan baku di pasar. 

Alasannya, banyak oknum distributor yang nakal. Misal, mereka menawarkan satu jenis bahan baku kurang segar dari yang dijual di pasar. “Pernah pas saya mau masak rendang jengkol, ternyata stok jengkolnya jelek-jelek, kecil dan gepeng. Berbeda dengan jengkol di pasar yang besar-besar dan gemuk. Bahan baku di pasar lebih murah sekitar Rp 1.000–Rp 3.000 per item,” kata Riezka. 

Cuma, Riezka enggan membeberkan besaran margin atau keuntungan yang didapat dari bisnis katering. Namun, menurut Nuning, margin yang bisa diperoleh dari bisnis katering khusus pekerja pabrik sekitar 20% per order.   

Reporter: Dikky Setiawan, RR Putri Werdiningsih
Editor: Hendrika
Share :
Artikel Lainnya