Anda Belum Login,
silakan login atau register ?
Login Register
Buka Bisnis Kuliner di Zaman Digital
Cara bikin karyawan loyal agar cuan mengalir ke bisnis minuman
PELUANG BISNIS | 24 Februari 2020
Minuman Boba 

KONTAN.CO.ID -  Dena, (25 tahun) dulunya adalah pengusaha kecil yang merintis usaha gerai minuman Choco Boba di Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat. Lebih dari setahun, Dena menikmati manis laba dari racikan minuman dengan topping Boba yang dijual dengan booth di dekat pusat pertokoan.

Pemilihan tempat yang cocok di pusat keramaian membuat pendapatan Dena berkembang pesat di tahun pertama di pertengahan 2018. Namun, memasuki tahun kedua di pertengahan 2019, Dena tak kuasa lagi menjalankan bisnis Choco Boba. Ia tak bisa mengawasi karyawannya yang ditugaskan mengurus usaha minuman boba yang lagi tren saat itu.

Karena melahirkan, Dena akhirnya memilih fokus mengurus bayinya saja. Saat si karyawan sepenuhnya mengurus usaha, ternyata bisnisnya tidak berkembang. Dena lantas pilih menghentikan usaha karena khawatir rugi. Agak susah mengawasinya, karena saya fokus merawat bayi, kata Dena.

Ada tiga petikan pelajaran yang bisa diambil dari cara Dena membuka usaha minuman ini. Pertama, harus mencari lokasi usaha minuman di tempat yang strategis dan ada di pusat keramaian. Kedua, memiliki mekanisme kontrol dan pengawasan. Ketiga, harus menguasai manajemen usaha, terutama mengelola karyawan. Dengan sistem yang bagus, setidaknya akan membuat karyawan bekerja dengan tertib.

Ikhwan Maulana, pemilik toko bahan baku minuman Bandar Powder juga menceritakan hal yang sama. Banyak pelanggan yang sudah mengembangkan bisnis minuman, gagal dalam mengelola karyawan. Rata-rata karyawan di gerai minuman itu hanya bekerja 3 bulan - 4 bulan saja, kata Ikhwan.

Dengan durasi kerja yang pendek, tentu berat bagi pemilik usaha minuman mencari penggantinya. Apalagi, mencari orang yang bisa langsung kerja di bisnis minuman tersebut terbilang tak mudah. Sebelum pekerja diterjunkan, mereka memang perlu mendapatkan pelatihan terlebih dahulu.

Memberikan pelatihan untuk karyawan agar bisa meracik minuman merupakan hal yang wajib di bisnis minuman. Jangan sampai komplain datang karena ada perubahan rasa akibat kelalaian dari karyawan saat meracik minuman. Sekarang serba digital, laporan negatif itu bisa disampaikan secara online dan dilihat banyak orang, dampaknya bisa negatif ke penjualan, kata Raden Rino Agusaputra, pemilik gerai minuman Dink Dink.

Untuk menyiasati masalah tenaga kerja, Rino secara khusus telah mengantisipasinya di Dink Dink. Rino memberlakukan sistem bonus kepada karyawan, jika mereka sudah bisa mencapai target penjualan yang ditetapkan bersama. Jika target penjualan 100 per cup tercapai, maka penjualan cup selanjutnya bagi margin, kata Rino.

Usaha tersebut ternyata efektif, banyak karyawan Rino berebut mengejar target. Pola ini juga meningkatkan kesejahteraan karyawannya, yang ujungnya pemilik jelas ikut diuntungkan. Selain itu, ada juga reward jalan-jalan untuk karyawan yang sudah memiliki masa kerja lama, kata Rino.

Selain karyawan, tantangan bisnis minuman saat ini adalah harus mampu membuat program kampanye di media sosial. Rino menjelaskan, media sosial yang digunakan adalah media sosial yang paling banyak digunakan oleh target market mereka, yaitu generasi Z, yang saat ini ada di rentang usia sekolah dan perguruan tinggi. Saya milih pakai Instagram karena segmen konsumen saya (generasi Z) lebih banyak memakai Instagram ketimbang Facebook, ujar Rino.

Kini Rino bersiap menggunakan aplikasi TikTok yang belakangan banyak digunakan konsumennya. Meski akrab dengan media sosial, namun Rino tetap menggunakan media konvensional seperti flyer termasuk penggunaan umbul-umbul di setiap lokasi gerainya. Hal lain yang tak kalah mendukung usaha kami adalah, kehadiran Gojek dan GrabFood yang sangat berperan ke bisnis minuman seperti kami ini, ungkap Rino.

 

Reporter: Asnil Bambani Amri
Editor: Asnil Amri
Share :
Artikel Lainnya