Anda Belum Login,
silakan login atau register ?
Login Register
Buka Bisnis Kuliner di Zaman Digital
Bisnis Seafood Tak Selalu Bermodal Jumbo
BISNIS KULINER | 26 Februari 2020

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sebagai negara kepulauan, seafood tentu bukan makanan asing bagi orang Indonesia. Makanya, usaha kuliner berbasis tangkapan hasil laut pun tak ada habisnya. Bahkan, seiring waktu, ada saja tren barunya.

Selama ini, kebanyakan usaha kuliner seafood berskala restoran. Namun, seiring waktu, ada pebisnis yang menjalankan usaha olahan seafood yang berlokasi hanya di kaki lima menggunakan gerobak atau ada yang berupa booth. Jualannya bisa seafood segar, camilan seafood krispi, maupun olahan berbentuk baso hingga surimi.

Nah, belakangan ini, mulai tren jualan  olahan seafood segar tanpa gerai alias langsung dari dapur. Istilahnya goes resto. Ini tak terlepas dari tren digital. Sekarang, berjualan bisa hanya melalui kerjasama dengan aplikasi transportasi online atawa ojek online maupun market place. Artinya, tak perlu repot dan merogoh ongkos untuk sewa tempat atau pasang booth. 

Tapi, bukan tanpa konsekuensi. Lantaran mengandalkan kekuatan online, pemilik usaha goes resto harus kuat ‘mengendalikan’ komunitas konsumen melalui media online-nya, seperti Instagram. Tak bisa semata-mata mengandalkan penjualan via ojek online.   

Yeng jelas, bisnis olahan seafood memang menggiurkan. Toh, tingkat keuntungan dan kemampuan balik modal bakal tergantung dari jenis produk dan model bisnisnya. Misalnya, pemilik usaha Kepiting Nyinyir, Gilang Margi Nugroho bilang, tingkat keuntungannya dari berjualan menu seafood segar lumayan besar. Sehingga, usaha mereka bisa balik modal dalam hitungan hari saja. Ini wajar, dengan mengusung konsep goes resto, usaha ini menghemat banyak ongkos tanpa harus menyewa lokasi gerai.

Sedangkan, Ulfa Nurjanah, pemilik kemitraan Mr.Cuki bilang, keuntungan dari bisnis cumi kripsi, relatif sama seperti usaha kuliner lainnya, sekitar 30% dari omzet. Pengalaman dia, bisa break event point (BEP) setelah tiga bulan. Sebab, ada pengeluaran untuk beli booth.

Usaha skala gerai atau resto, seperti Cranky Crab butuh waktu lebih panjang untuk balik modal. Maklum, target konsumen yang dibidik pun kelas menengah ke atas. Kontan mencatat, modal untuk membuka satu kemitraan resto seafood segar ini sekitar Rp 2 miliar. Modal itu belum termasuk sewa tempat. Untuk menjalankan operasional, dibutuhkan 25 karyawan termasuk chef. Dengan omzet satu gerai ditargetkan minimal Rp 500 juta sebulan, dan laba bersih 20%, maka pemilik resto diperkirakan BEP sekitar dua tahun.

Pastikan bahan baku 

 

Jika ingin terjun berbisnis olahan seafood, sejumlah faktor penting wajib dilakoni. Pertama, memastikan bahan baku tersedia dan berkelanjutan, bukan musiman. “Karena usaha sudah berjalan, sedangkan suplai bermasalah akan repot,” tutur Gilang.

 

Ulfa sependapat. Dia bilang yang terpenting dari usaha seafood adalah ketersediaan bahan baku. Di samping itu, penyimpanan tidak bisa sembarangan. Wajib punya storage atau freezer khusus. Jika, dalam keadaan tidak beku, maka akan banyak kerugian.

Kedua, pastikan produknya layak jual. Jadi, perlu ada taste food, tidak bisa mengikuti selera sendiri. Nah, kata Gilang, jika ingin hasilnya efektif dan jujur, maka hindari uji rasa dari pihak keluarga. Sebaiknya menggunakan teman-teman.

Ketiga, pastikan kemampuan dan kapasitas sumber daya manusia (SDM) alias karyawan. Karena produksi untuk skala massal, maka koki harus bisa masak dengan kapasitas yang besar. 

Keempat, tentukan model usahanya: menggunakan gerai atau tempat makan atau model take away. Jika model resto, maka harus dipikirkan aspek keamanan kitchen dan sanitasi dari limbah, selain biaya sewa tempat. Sedangkan, take away atau jualan secara online akan lebih efisien. Bisnis skala rumahan dengan produk yang habis sehari, juga tidak perlu repot mengurus perizinan.

Nah, jika usaha sudah berjalan, yg harus dipertahankan adalah kualitas rasa. Kata Ulfa, ia rutin mengevaluasi rasa. Di samping itu, untuk mempertahankan kualitas rasa, setiap karyawan di kemitraan Mr.Cuki menjalani training. 

Tertarik menjajal usaha olahan seafood? Contoh berikut mungkin bisa jadi pertimbangan.

PASOKAN IKAN BEKU

Kepiting Nyinyir

Gilang bersama rekannya Rachman Abdul Rachim mengawali bisnisnya dengan bermodal Rp 3 juta. Sebesar Rp 2 juta untuk taste food (beli bahan baku dan bumbu). Sisanya, Rp 1 juta dibelikan perlengkapan masak. Awalnya, hanya satu menu, yaitu kepiting saus padang.

Setelah didapat rasa yang pas, bisnis pun berjalan. Kala itu, hanya dua hari berjualan, kata Gilang, sudah balik modal. Pembeli awal datang dari hasil postingan teman-temannya di media sosial.

Di bisnis kuliner, menurut Gilang perlu diversifikasi rasa mengikuti minat pasar. Sehingga, sekarang ada enam varian menu, yang berisi paduan kepiting, kerang, cumi dan baby octopus. Pilihan saus pun kini lebih variatif, selain saus padang, ada saus tiram dan saus lada hitam. Harga jual menu dibanderol mulai dari Rp 145.000 hingga Rp 275.000.

Dia mengakui, margin dari bisnis ini sangat gemuk, karena investasi rendah. Untuk dapur produksi memang perlu sewa tempat. Sebab, kini dia membuka empat dapur. Tapi, biaya sewa tidak sebesar ongkos sewa ruko untuk resto atau gerai.

Total ada 55 karyawan yang dipekerjakan, yang mayoritas ibu-ibu sebagai koki. Di sisi lain, Gilang tidak perlu membayar pelayan plus seragam seperti di restoran. Biaya listrik rata-rata Rp 500.000 per satu dapur.

Memang, ada modal cukup besar untuk beli freezer. Tapi, itu pun bergulir perlahan seiring membesarnya skala usaha. Sekarang, saban hari, Kepiting Nyinyir mengolah 2-3 koli atau setara 60 kilogram kepiting. Lalu, kebutuhan kerang dan seafood lainnya sekitar 100 kg sehari.

Gilang mengaku, rata-rata omzet satu dapur mencapai Rp 300 juta sebulan.

Pengalaman selama lima tahun bisnis berjalan, dia bilang, yang harus selalu dijaga adalah konsistensi rasa. Untuk itu, bumbu sudah diracik dalam bentuk pasta. 

Tantangan lain adalah Indonesia gampang ganti tren makanan. “Jadi, setiap hari harus mikirin yg dilakukan sudah benar atau belum, bagaimana soscial engagement di media sosial untuk menjaga produk kita tetap ada di top mind konsumen,” beber pria 30 tahun ini.

Menurut Gilang, menjaga komunitas konsumen ini wajib dilakukan. Karena tidak bisa hanya mengandalkan jualan dari market place dan Grab/Gojek. Sehingga, ada  anggaran khusus untuk mengelola media sosial mereka.

Di samping itu, sosial media itu realtime, bisa berubah setiap saat. Perkembangan informasi di medsos wajib dipantau karena itulah yang dijadikan patokan untuk membuat promosi harga sewaktu-waktu. Jadi, Kepiting Nyinyir tidak punya kalender promo.

Saran Gilang, bagi pemula di bisnis seafood, jangan baperan alias harus tahan banting, Meski sepi atau ramai, harus tetap dijalani. Lalu, harus pandai menjaga rating, karena menjadi acuan konsumen untuk beli.

Mr.Cuki

Awalnya, Ulfa membuka usaha Mr.Cuki dengan modal Rp 15 juta. Kebanyakan untuk modal pembuatan gerobak dan beli peralatan. Sedangkan proses uji coba hingga menghasilkan produk cumi kripsi yang pas mencapai tiga bulan. Sekarang, ada enam  varian rasa cumi krispy dengan harga jual satu porsi mulai dari Rp 7.000 di wilayah Jawa dan DIY, dan mulai dari Rp 10.000 di Jabodetabek.

Penjualan rata-rata satu gerai sekitar 70-100 porsi per hari.  Dari jualan ini, kata Ulfa, margin usaha sekitar 30%. Dulu, ia bisa BEP dalam tiga bulan. Dengan mengelola empat gerai milik sendiri, Ulfa dibantu suaminya menangani urusan keuangan sendiri.

Untuk promosi, lebih banyak menggunakan media sosial. “Sering-sering juga jadi sponsor acara agar lebih dikenal publik,” tutur dia.

Selain menjaga kualitas, tantangan di bisnis olahan seafood ini, menurut dia adalah lebih terkait mental. Ulfa bilang,  hanya ada dua kemungkinan: untung atau rugi, lanjut atau tutup. “Tapi, kalau kalau sudah keluarin modal, harus siap-siap rugi,” imbuh dia.

Bisnis yang dirintis sejak 2017 silam ini, kini sudah berkembang dengan memiliki 28 mitra. Jika tertarik menjajal bisnis seafood krispi seperti Mr. Cuki, setidaknya dari pengalaman Ulfa, Anda perlu menyiapkan modal sekitar Rp 30 juta. Modal itu untuk beli bahan baku, alat penggorengan dan gerobak..

Nah, Anda mau pilih model bisnis mana?    

Reporter: Dupla Kartini
Editor: Dupla Kartini
Share :
Artikel Lainnya